Derita muslim Uighur di Xinjiang China

Juli 14, 2009
Kerusuhan antara etnis Uighur dan Han di Provinsi Xinjiang, China, yang terjadi semenjak pekan lalu merupakan tragedi kemanusiaan yang patut disesalkan. Apalagi korban tewas mencapai 184 orang.

Muslim Uighur di Xinjiang tidak punya pilihan lain selain bertahan dan melakukan perlawanan sebisa mungkin menghadapi amukan dan keberingasan etnis Han yang menyerang mereka. Tak jarang mereka harus lari menyelamatkan diri dari kejaran ribuan orang Han yang membawa tongkat pemukul dan senjata lainnya.

Sejumlah saksi mata mengungkapkan, aparat keamanan China menangkap ribuan Muslim Uighur tapi tak satupun etnis Han yang terlibat kerusuhan ditangkap. Aparat China hanya mengusir etnis Han jika terlihat melakukan aksi anarkis dan kekerasan.

Kerusuhan tersebut dipicu oleh sentimen antara etnis Uighur dan Han. Namun, penanganan kerusuhan oleh Beijing cenderung berpihak kepada salah satu pihak. Hal ini dapat dilihat dari penangkapan 1.434 orang dari etnis Uighur, Hal tersebut dikatakan anggota Komisi Luar negeri DPR Mutammimul Ula kepada okezone.com, Senin (13/7/2009). Pemerintah China seharusnya menyelesaikan konflik di Xinjiang dari akar persoalan yang sebenarnya. Pendekatan dialog dan cara-cara damai haruslah dikedepankan.
Asal tahu saja, warga Uighur adalah warga Muslim di China yang menggunakan bahasa Turki. Jumlah mereka di Xinjiang diperkirakan sebanyak delapan juta jiwa. Selama ini mereka mengeluhkan tindakan diskriminatif dari Beijing.

Seperti halnya dengan Tibet, Xinjiang merupakan salah satu wilayah yang paling sensitif dalam politik di China. Letaknya strategis di perbatasan dengan Rusia, Mongolia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, dan India. Daerah ini memiliki cadangan minyak berlimpah dan produksi gas alam terbesar di China.

Kebencian antar ras, Uighur yang minoritas dan Han, yang mayoritas sudah punya sejarah tersendiri. Kebencian itu pernah memuncak dengan keinginan Uighur memisahkan diri. Hal ini bisa diatasi oleh Mao Zedong dengan mengirimkan tentara tahun 1949 ke Xinjiang. Namun, akar kebencian itu tak pernah sirna.


Kini,
booming ekonomi yang diiringi peningkatan kesenjangan makin mencuatkan kebencian kultural di antara dua kelompok etnis itu. ”Warga etnis Han tidak menyukai kami. Kami selalu mengalami diskriminasi dan dipandang rendah,” kata Abdullah (28) dari Urumqi, ibu kota Provinsi Xinjiang.

”Hampir semua perusahaan China tidak suka menggunakan etnis Uighur dan, jika kami dapat pekerjaan, mereka kurang menghargai kami,” kata Abdullah, buruh di sebuah pabrik baja milik negara.

Dia mengatakan, buruh etnis Han menerima gaji empat kali dari gajinya yang sebesar Rp 1,6 juta per bulan untuk pekerjaan serupa. Kedatangan etnis Han dari sejumlah wilayah di China ke Xinjiang, yang didominasi Muslim Uighur, juga menambah masalah. Pada 1949, porsi etnis Han hanya sekitar enam persen dari total penduduk Xinjiang, sebuah wilayah berpegunungan. Kini persentase Han melejit menjadi 40 persen dari 20,1 juta jiwa penduduk Xinjiang.

Saudaraku mari kita beri dukungan buat saudara kita di Xinjiang secara moril dan materil dan spritual, baik melalui doa atau protes secara langsung ke Kedubes China maupun dalam bentuk lainnya.

Dari Berbagai sumber: okezone.com, eramuslim.com, kompas.com

Hello world!

Mei 24, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!